Senin, 06 Juni 2016

PENDEKATAN KONSELING EKLEKTIK





 





Add caption









 PENDEKATAN KONSELING EKLEKTIK


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori-teori Konseling II
Dosen Pengampu : Hastin Budisiwi, M.Pd






Disusun oleh :


1.       Iis Nurul Fitriyani                           (1114500082)/3C
2.       Nandito Over Beeke                       (1114500093)/3C
3.       Pradita Anggi Ayuningtiyas             (1114500095)/3C
4.       Syahrul Aji PP                                (1114500102)/3C







PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2015




KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas  limpahan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan Makalah Teori-teori Konseling II tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang “PENDEKATAN KONSELING EKLEKTIK”.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini diantaranya :
1.        Ibu Hastin Budisiwi, M.Pd selaku dosen pembimbing yang memberikan arahan bagi kami dalam penyusunan makalah ini.
2.        Semua teman-teman yang terlibat dan ikut serta dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini mungkin saja masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan tangan terbuka menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah yang kami susun ini di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.



Tegal, 23 November 2015


Penulis









DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang 1
B.     Rumusan Masalah 1
C.     Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Tokoh dan Pendekatan Konseling Eklektik 3
B.     Konsep Dasar Konseling Eklektik 4
C.     Asumsi Perilaku Bermasalah Menurut Pendekatan Konseling Eklektik 6
D.    Tujuan Konseling Eklektik 7
E.     Peran Konselor 7
F.      Deskripsi Proses Konseling Eklektik 7
G.    Teknik Konseling Eklektik 9
H.    Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Konseling Eklektik 10
I.       Contoh Kasus 11
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan 18
B.     Saran 18
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksanaan konseling bertitik tolak dari teori-teori yang dijadikan sebagai acuannya. Pada umumnya teori diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip umum yang didukung oleh data untuk menjelaskan suatu fenomena. Namun karena setiap teori konseling memiliki kelebihan dan kekurangan serta dalam kenyataan praktik konseling menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat dientaskan secara baik dengan hanya satu pendekatan saja, maka dibutuhkan suatu garis kontinum yang dapat menghubungkan berbagai kelebihan dari masing-masing teori konseling. 
Dalam makalah yang berjudul Pendekatan Konseling Eklektik yang kami tulis ini merupakan suatu garis kontinum tersebut yang akan memungkinkan dapat mengembangkan berbagai modifikasi ataupun pengawinan dari berbagai teori yang telah ada. Selain dari itu kami membuat makalah ini juga sebagai penyelesaian tugas kelompok dari Ibu Hastin Budisiwi, M.Pd. selaku dosen mata kuliah “Teori-Teori Konseling II.”
B.            Rumusan Masalah
1.             Bagaimana tokoh dan pendekatan konseling eklektik?
2.             Bagaimana konsep dasar pendekatan konseling eklektik?
3.             Bagaimana asumsi perilaku  bermasalah dalam pendekatan konseling eklektik?
4.             Apa tujuan pendekatan konseling eklektik?
5.             Apa peran konselor dalam pendekatan eklektik?
6.             Bagaimana deskripsi proses konseling eklektik?
7.             Apa saja teknik konseling eklektik?
8.             Apa kelebihan dan keterbatasan pendekatan konseling eklektik?
9.             Bagaimana contoh kasus pendekatan konseling elektik?



C.           Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui tokoh dan pendekatan konseling eklektik.
2.      Memahami konsep dasar pendekatan konseling eklektik.
3.      Mengetahui asumsi perilaku  bermasalah dalam pendekatan konseling eklektik.
4.      Mengetahui tujuan pendekatan konseling eklektik.
5.      Mengetahui peran konselor dalam pendekatan eklektik.
6.      Memahami deskripsi proses konseling eklektik.
7.      Memahami teknik konseling eklektik.
8.      Mengetahui kelebihan dan keterbatasan pendekatan konseling eklektik.
9.      Mengetahui contoh kasus pendekatan konseling elektik.


































BAB II
PEMBAHASAN


A.      Tokoh dan Pendekatan Konseling Eklektik
Konseling eklektik mulai dikembangkan sejak tahun 1940-an oleh Frederick Thorne yang merupakan promotor utama dari corak konseling. Pada saat itu Frederick Thorne mulai mengelola majalah: Journal of Clinical Psychology pada Tahun l945 dan menyebarluaskan pandangan-pandangannya dalam beberapa buku, antara lain Principles of Personality Counseling (1950). yang mencoba mengintegrasikan unsur-unsur positif dari masing-masing aliran dalam suatu sistematika baru dan terpadu.
Teori konseling ini menunjukkan suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoritis dan pendekatan hasil perpaduan berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan. Hal ini bermaksud untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan konseli untuk berpikir benar dan tepat, sehingga konseli menjadi mahir dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Thorne menggunakan teknik-teknik konseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli tidak membutuhkan pengarahan berupa penyadaran arus pikiran, informasi, saran, dan sebagainya serta menggunakan teknik-teknik konseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli. Thorne menganjurkan supaya konseli diberi kesempatan untuk menemukan sendiri penyelesaian atas masalahnya tanpa pengarahan dari konselor; bilamana ternyata konseli belum dapat menemukan penyelesaian atas prakarsa sendiri; barulah konselor mulai memberikan pengarahan yang jelas. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan masalahnya serta mengungkapkan semua pikiran dan perasaannya tentang masalah itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak mengandung pengarahan tegas oleh konselor, seperti ajakan untuk mulai, refleksi pikiran dan perasaan, klarifikasi pikiran dan perasaan, permintaan untuk melanjutkan, pengulangan satu-dua kata, dan ringkasan sementara. namun, dalam keseluruhannya proses konseling tidak dibiarkan berjalan ala kadamya, tetapi diatur menurut urutan fasefase penutup.
Konselor sebagai psikolog ahli, yang. menguasai berbagai prosedur dan teknik untuk memberikan bantuan psikologis kepada orang lain, berkompeten untuk mendampingi konseli dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup secara tuntas. Konseling eklektik sebagaimana dikembangkan oleh Thorne dianggap sesuai untuk diterapkan terhadap orang-orang yang tergolong normal, yaitu tidak menunjukkan gejala-geiala kelainan dalam kepribadiannya atau gangguan kesehatan. mental yang berat. Orang-orang yang normal itu dapat saja menghadapi berbagai persoalan hidup, yang dapat mereka selesaikan tanpa dituntut perombakan total dalam kepribadiannya. Dalam hal ini, Konseli sebagai manusia dianggap memiliki dorongan, yang timbul dari dirinya sendiri, untuk mempertahankan (maintenance) dan mengembangkan dirinya sendiri, seoptimal mungkin (actualization), namun realisasi dari dorongan dasar ini dapat terhambat karena konseli belum mempergurtakan kemampuanriya untuk berpikir secara efisien dan efektif. 
Oleh karena itu, bantuan yang diberikan oIeh konselor bukan hal yang befsifat dikotomis (tidak ada pengarahan ada pengarahan), melainkan bergeser-geser pada suatu kontinum dari pengarahan minimal sampai pengarahan maksimal, sesuai dengan keadaan konseli pada saat tertentu. Thorne menekankan perluriya dikumpulkan data sebanyak mungkin tentang konseli, yang diperoleh dari berbagai sumber informasi (cease history). Data itu dianggap perlu, supaya konselor dapat membuat suatu diagnosis dan hubungan sebab-akibat antara unsur-unsur dalam persoalan konseli menjadi jelas (psychological diagnosis), dan supaya kelanjutan dari proses konseling dapat direncanakan dengan lebih baik. Menurut norma atau patokan yang dipegang oleh Thorne, seseorang dikatakan telah berhasil dalam menjalani’proses konseling bila dia mampu, mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya secara lebih memadai; mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik; memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara lebih realistik; mampu berpikir lebih rasional dan logis; mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain; mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan berbagai mekanisme pertahanan diri; dan inenunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak secara lebih dewasa.
B.       Konsep Dasar Konseling Eklektik
Kata eklektik berarti menyeleksi, memilih doktrin yang sesuai atau metode dari berbagai sumber atau sistem. Teori konseling eklektik menunjuk pada suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoritis dan pendekatan, yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan.
Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpendapat bahwa mengikuti satu orientasi teoritis serta menerapkan satu pendekatan terlalu membatasi ruang gerak konselor sebaliknya konselor ingin menggunakan variasi dalam sudut pandangan, prosedur dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah-masalah yang dihadapi. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti orang yang bersikap oportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan, prosedur dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik tanpa berpegang pada prinsip-prinsip tertentu. Konselor yang berpegang pada pola eklektik menguasai sejumlah prosedur dan teknik  serta memilih dari prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang tersedia, mana yang dianggapnya paling sesuai dalam melayani konseli tertentu. (Winkel, 1991: 373)
Dari pengetahuannya pada persepsi, pengembangan, pembelajaran dan kepribadian, konselor eklektik mengembangkan metode dan memilih yang paling sesuai dengan masalah yang dihadapi individu. Konselor mengembangkan pandangan eklektik yang digambarkan oleh Brammer dengan urutan sebagai berikut :
1.         Konselor menolak penekanan teori secara khusus dengan mengamati dan menilai klien dan perilaku konselor lainnya.
2.         Konselor mempelajari sejarah dari konseling dan psikoterapi untuk mengembangkan pengetahuannya.
3.         Konselor yang mengembangkan pandangan eklektik mengetahui kepribadiannya sendiri dan menyadari gaya interaksi yang perlu dikembangkan dalam hubungan konseling sesuai dengan karakteristik klien yang berbeda-beda.
Teori konseling eklektik seperti yang dipersepsikan oleh Thorne membutuhkan tanggapan dari klien tentang sejarah masa lalu mereka, situasi saat ini, dan kemungkinan di masa yang akan datang, dengan memanfaatkan pengetahuan perkembangan kepribadian dari ilmu biologi dan sosial. Oleh karena itu, konselor perlu memiliki pengetahuan yang mendalam tentang perwujudan diri individu. Selain itu teori konseling eklektik dibangun atas kebutuhan akan memaksimalkan intelektual individu sebagai sumber daya untuk mengembangkan pemecahan masalah. Penyesuaian yang salah diyakini sebagai hasil dari kegagalan klien dalam belajar menggunakan sumber daya intelektual.
Menurut Thorne, konseling dan psikoterapi dipahami sebagai proses pembelajaran yang meliputi :
1.      Mendiagnosis faktor-faktor psikodinamika etiologi dalam rangka untuk merumuskan masalah yang akan dipelajari.
  1. Menyusun suasana kondusif untuk pembelajaran.
  2. Menguraikan dan membimbing langkah-langkah pendidikan.
  3. Menyediakan kesempatan untuk praktik.
  4. Memberi wawasan terhadap proses yang alami dan hasilnya untuk meningkatkan motivasi belajar.
C.      Asumsi Perilaku Bermasalah Menurut Pendekatan Konseling Eklektik
1.         Dalam pendekatan konseling eklektik perilaku bermasalah merupakan perilaku yang terlalu kompulsif dan emosional.
2.         Tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien
3.         Pertimbangan profesional/pribadi konselor adalah faktor penting akan keberhasilan konseling pada berbagai tahap konseling.
Menurut Gilland dkk (1984) asumsi yang telah disebutkan ditunjang oleh kenyataan berikut :
1.         Tidak ada dua klien/ situasi klien yang sama
2.         Klien adalah pihak yang paling tau problemnya
3.         Kepuasaan klien lebih di utamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor
4.         Konselor menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan (konseling)
5.         Konselor dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien
6.         Secara umum,efektivitas konseling adalah proses yang dikerjakan “dengan” klien bukan “kepada” atau “untuk” klien.
Asumsi yang mendasari pendekatan eklektik ini ialah bahwa individu secara berkala membutuhkan pertolongan professional untuk memahami dirinya sendiri serta situasi-situasinya, dan mengatasi aneka masalahnya. Pertolongan istimewa ini harus bersifat mendidik. Seorang konselor eklektik berpendapat bahwa penggunaan sebuah pendekatan tunggal hanya akan membatasi gerak, di samping itu aneka sumber yang tersedia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam melaksanakan tugasnya, konselor eklektik mengikuti sebuah filsafat dan arah yang konsisten, sedangkan teknik-teknik yang digunakannya pun dipilih karena sudah teruji bukan berdasarkan coba-coba belaka. Dengan bekal pengetahuannya tentang persepsi, prinsip-prinsip pengembangan, prinsip-prinsip belajar dan kepribadian, sang konselor eklektik mengembangkan sejenis bank metode, lalu memilih yang paling cocok untuk menangani suatu masalah tertentu.
D.      Tujuan Konseling Eklektik
Tujuan konseling menurut eklektik adalah membantu klien mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan yang ideal ini maka klien perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajarkan klien secara sadar dan intensif mamiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus pada tingkah laku, tujuan, masalah, dan sebagainya.
E.       Peran Konselor Eklektik
Peran konselor eklektik sebenarnya tidak terdefinisi secara khusus. Hanya saja dikemukakan peran konselor sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan dalam proses konseling itu. Jika dalam proses konseling itu menggunakan psikoanalisis, maka peran konselor adalah sebagai psikoanalisis, sementara jika pendekatan yang digunakan adalah berpusat pada konseli maka perannya sebagai pertner konseli dalam membuka diri terhadap segenap pengalamannya.
Beberapa ahli eklekik memberi penekanan bahwa konselor perlu memberi perhatian kepada konseli, menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan konseli. Pada dasarnya seluruh pendekatan berkeinginan membantu konseli mengubah diri konseli sebagaimana yang dia alami. Konselor dalam mencapai tujuan ini dapat berperan secara bervariasi, misalnya sebagai konselor, psikiater, guru, konsultan, fasilitator, mentor, advisor, atau pelatih.
F.       Deskripsi Proses Konseling Eklektik
1.    Fase Pembukaan
Selama fase ini, konselor berusaha untuk menciptakan relasi hubungan antarpribadi yang baik. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan masalahnya serta mengungkapkan semua pikiran dan perasaannya tentang masalah itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak mengandung pengarahan tegas oleh konselor, seperti ajakan untuk mulai, refleksi pikiran dan perasaan, klarifikasi pikiran dan perasaan, permintaan untuk melanjutkan, pengulangan satu-dua kata, dan ringkasan sementara.
2.    Fase Penjelasan Masalah
Konseli mengutarakan masalah atau persoalan yang dihadapi.  Selama tahap ini konselor mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil menunjukkan pemahaman dan pengertian serta memantulkan perasaan dan pikiran yang diungkap oleh konseli. Konselor banyak menggunakan teknik-teknik verbal yang mengandung pengarahan minimal.
Konselor berusaha untuk menentukan apa yang diharapkan konseli dari dirinya. Harapan ini merupakan kebutuhan konseli pada saat sekarang dan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling. Kebutuhan konseli dapat bermacam-macam, antara lain:
a.    Konseli membutuhkan informasi tentang sesuatu dan dia akan puas setelah mendapat informasi yang relevan. Tanggapan konselor berupa penjelasan tentang hal yang ditanyakan kalau dia langsung mengetahuinya, atau berupa penunjukan sumber-sumber informasi yang relevan.
b.    Konseli membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang sulit baginya. Konseli ingin mencurahkan isi hatinya dan mengurangi beban batinnya dengan mengutarakan semua kepada seseorang yang dapat mendengar dengan tenang dan bersikap empati. Tanggapan konselor dapat berupa pemberian semangat dan keberanian serta pengangkatan hati.
c.    Konseli membutuhkan konfirmasi atau suatu pilihan yang telah dibuatnya. Konselor dapat mempersilakan konseli untuk menjelaskan atas dasar pertimbangan-pertimbangan apa ditentukan pilihan itu.
d.   Konseli membutuhkan bantuan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, yang memang belum ditemukan cara penyelesaiannya. Kebutuhan ini menjadi nyata dari ungkapan-ungkapan konseli selama tahap penjelasan masalah.
3.    Fase Penggalian Masalah
Pada fase ini sering disebut analisis kasus karena konselor dan konseli bersama-sama menggali latar belakang masalah, antara lain asal-usul permasalahan, unsur-unsur yang pokok dan tidak pokok, pihak-pihak siapa saja yang terlibat, perasaan dan pikiran konseli  mengenai masalah yang dihadapi. Selama fase ini akan menjadi lebih jelas pula bagi seorang konselor, apakah masalah konseli termasuk ‘a choice case’ atau ‘a changecase’, seandainya hal ini belum dapat ditentukan, mugkin juga dianggap perlu mencaridata dan fakta tambahan yang harus dikumpulkan di luar waktu wawancara sekarang ini. Apabila demikian, proses konseling dihentikan dahulu untuk dilanjutkan dalam wawancara berikutnya.
4.    Fase  Penyelesaian Masalah
Dengan berpegang pada perbedaan antara ‘a choise case’ dan ‘a change case’, konselor dan konseli membahas persoalan sampai ditemukan penyelesaian yang tuntas dengan mengindahkan semua data dan fakta. Pada fase ini akan memakan waktu paling lama dan mungkin memerlukan wawancara lanjutan.
5.    Fase Penutup
Selama tahap ini konselor mengakhiri proses konseling, baik yang masih akan disusul dengan konseling lain maupun yang merupakan konseling terakhir. (Winkel, 1990:373)
G.      Teknik Konseling Eklektik
Pendapat yang paling relevan bagi konselor yang menggunakan teknik eklektik adalah tingkat keaktifan konselor dalam bekerja dengan klien. Setelah menelusuri sejarah dari dasar pemikiran tentang peran konselor, Thorne membuat kesimpulan tentang penggunaan teknik aktif dan teknik pasif. Metode aktif harus digunakan hanya dengan indikasi tertentu. Sedangkan metode pasif harus digunakan bila memungkinkan. Pada umumnya, teknik tersebut hanya meminimalkan campur tangan secara langsung yang  diperlukan untuk mencapai tujuan konseling. Berikut penjelasan dari teknik aktif dan pasif :
1.         Teknik pasif biasanya menggunakan teknik pilihan pada tahap awal terapi saat klien bercerita dan untuk melepaskan emosional.
2.         Hukum parsimoni harus diamati setiap saat. Metode yang sulit digunakan setelah metode sederhana gagal dilakukan.
3.         Semua proses konseling berpusat pada klien. Ini berarti bahwa kepentingan klien menjadi pertimbangan utama. Ini tidak berarti bahwa metode aktif kontra-indikasi. Dalam banyak kasus, kebutuhan klien menunjukkan tindakan direktif.
4.         Memberi kesempatan kepada setiap klien untuk menyelesaikan masalahnya secara tidak langsung.
5.         Teknik aktif biasanya ditunjukkan dalam situasi ketidakmampuan dimana solusi tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dengan orang lain.
6.         Konseling eklektik cenderung mengutamakan klien yang aktif dan konselor yang pasif. Tetapi bila teknik pasif yang dilakukan konselor mengalami hambatan, maka konselor baru menggunakan teknik aktif.
7.         Teknik pemecahan masalah juga dilaksanakan dengan sangat flaksibel, jika alternatif pemecahan masalah yang semula ternyata tidak efektif maka pemecahan masalah dapat diganti dengan cara-cara lain yang lebih efektif. Konselor membutuhkan fleksibilitas pemikiran dan fleksibilitas dalam pemecahan masalah.
H.      Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Konseling Eklektik
1.      Kelebihan
a.       Dapat menciptakan suatu sistematika dalam memberikan layanan konseling.
b.      Menghindari posisi dogmatik dan kaku dengan berpegang pada satu kerangka teoretis dan pendekatan praktis saja.
c.       Proses konseling bersifat efektif karena menetapkan/memadukan berbagai pendekatan dengan menggunakan berbagai variasi prosedur dan teknik, sehingga dapat melayani klien sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah yang dihadapi.
d.      Konselor dianggap lebih fleksibel karena dapat berada dalam continue dari direktif dan nondirektif.
2.      Keterbatasan
a.         Pendeatan konseling elektik adalah teori konseling yang tidak memiliki teori atau prinsip khusus tentang kepribadian.
b.         Dibutuhkan konselor yang benar-benar profesional karena menjadi mahir dalam penerapan satu pendekatan konseling tertentu sudah cukup sulit bagi seorang konselor, apalagi mengembangkan suatu pendekatan konseling yang memadukan unsur-unsur dari berbagai pendekatan konseling;
c.          Konseli dapat merasa bingung bila konselor mengubah-ubah siasatnya sesuai dengan keadaan konseli pada fase-fase tertentu dalam proses konseling
d.        Masih diragukan apakah konselor mampu menentukan siasat yang paling sesuai hanya berdasarkan reaksi dan tanggapan konseli pada saat-saat tertentu selama proses konseling berlangsung.
I.         Contoh Kasus
1.      Contoh Kasus 1
Mila, sebut saja begitu. Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila. Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertama kalinya ia dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya.
Analisis Contoh Kasus 1
a.        Metode Penanganan Humanistik
Asosiasi bebas (free association)
Dalam asosiasi bebas, klien mengungkapkan apapun yangada pada pikirannya. Asosiasi bebas merupakan proses pengungkapan tanpasensor dari pikiran-pikiran segera setalah pikiran masuk kebenak kita. Klien diminta untuk tidak menyensor atau menyaring pikiran, tetapi membiarkan pikiran merekamengembara secara bebas dari satu pikiran ke pikiran lain.
Klien diminta untuk mengungkapkan apapun yangada pada pikirannya.Pada kasus diatas subjek diminta untuk menceritakan apapun yang ada dipikirannya. Dengan demikian diasumsikan klien akan melepaskan hubungan yang penuh konflik dengan orangtuanyamelalui cara mentranfer perasaan mengenai orangtuanya kepada klinisi. Ketikaperasaan konflik mengenai orang tua terpacu melalui transference, klinisi dapatmembantu klien untuk proses Working trought. Pada proses ini, klien dibantuuntuk mencapai suatu resoles yang lebih sehat bagi masalahnya dibandingkandengan apa yang telah terjadi pada masa kanak-kanak.Ketika pelaksaan terapi, sering terjadi (resistance) klien atau menarik diri.Dalam hal ini tugas seorang klinisadalah membantu klien untuk mengatasi hal tersebut. Selanjutnya klinisi melakukan interpretasi untuk membantu klien.
b.        Metode Penanganan Humanistik
Terapi Humanistik dan Eksperimental Kontemporer
Terapis humanistik dan eksperimental kontemporer, mementingkan pentingnya memasuki dunia dan pengalaman klien. Mencoba menangkap hal yang paling penting bagi klien pada saat itu. Dalam hal inibiasanya menggunakan teknik wawancara motivasi /motivation interview-MI yaitu suatu cara terapis yang berpusat pada klien untuk mencapai perubahanperilaku dengan cara membantu klien mengeksplorasi dan mengatasi ketidakseimbangan.
Klinisi melakukan treatmen dengan klien melalui proses wawancara yang dapat membuat klien rileks. Melalui proses ini klinisi dapat memasuki dunia dan pengalaman klien sehingga klinisi dapat memotivasi klien agar secara perlahan klien dapat menyadari dan menginginkan serta melakukan perubahan perilaku.
c.         Metode Penanganan Gestal
Terapi kelompok
Klien dalam terapi kelompok biasanya merasakan kelegaan dan harapan karenamenyadari bahwa masalah mereka tidaklah unik. Terapi kelompok memberi mereka dukungan situasiyang kondusif untuk diskusi yang terus terang mengenai dorongan dan metodekontrak diri.
Selain adanya keinginan dari klien untuk melakukan perubahan, dukungan dari luar juga mempengaruhi. Di dalam terapi kelompok klien diberikan dukungan dari orang-orang yang ada disekitarnya sehingga dapat membantu terjadinya perubahan perilaku pada klien.
2.      Contoh Kasus 2
Mr X adalah seorang pria lajang berusia 35 tahun yang telah mengikuti sesi psikoterapi karena menderita gangguan distimik selama beberapa tahun. Setelah dilakukan eksplorasi dan interpretasi secara sadar, ditemukan faktor penyebab depresi. Ternyata Mr. X tidak pernah bisa menerima perpisahannya dengan orang tuanya yang terjadi ketika dirinya berusia sekitar 20 tahun. Pada saat itu, ia telah meninggalkan karir yang menguntungkan di industri keuangan untuk menjadi guru sekolah tinggi. Keputusan ini sangat memuaskan baginya secara emosional dan interpersonal, tetapi bagi orang tuanya hal ini merupakan kekecewaan besar dan pengkhianatan. Setelah mencoba untuk memperbaiki hubungandan hanya menerima terus kemarahan dan kritik dari orang tuanya, Mr X akhirnya berhenti bertemu dan berbicara kepada mereka.Sejauh klien sadar, ia telah melupakan sakit hati nya, kemarahan, dan kerinduan untuk kontak dengan keluarganya. Namun, seperti mimpi-mimpinya, asosiasi bebas, dan reaksi terhadap eksplorasi terapis, menjadi jelas bahwa ia terjebak dalam proses berkabung terputus dengan orang tuanya. Dalam keadaan ini ia dilanda kemarahan pada ibu dan ayahnya, rasa bersalah dan rasa malu karena telah menyakiti mereka, serta harapan yang tidak realistis bahwa mereka akan datang suatu hari untuk mencintai dan menerima dia dengan pilihannya.Semua emosi tersebut disimpan di luar kesadaran melalui proses defensif aktif, di antaranya adalah keputusan yang tanpa disadari mengubah kemarahannya melawan dirinya sendiri. Hasil dari serangan-serangan tak sadar pada dirinya sendiri menjadikan dirinya merasa sedih, lesu, dan terus-menerus diganggu oleh pikiran-kritik dan bayangan diri. Interpretasi proses tak sadar dan emosional ini membantu untuk mendapatkan jarak dan bantuan dari sikap menyerang terhadap diri sendiri, tapi dia belum bisa menyetujui bahwa pikiran adalah inti dari permasalahan yang membuatnya depresi.
Pada saat berada di titik ini, restrukturisasi kognitif dimulai dengan dua tujuan: pertama, untuk meringankan penderitaan klien, dan kedua, untuk mengeksternalisasi kemarahan klien yang diakibatkan oleh kehadiran pikiran-pikiran mengenai kemarahannya terhadap orang tuanya. Penggunaan integrasi kognitif ini merupakan ciri khas dari integrasi asimilatif, karena melibatkan penggunaan teknik dari terapi kognitif. Dengan cara ini Mr. X sukses melawan pemikiran diri yang kritis, gejala depresinya pun meningkat secara signifikan. Ia mulai memiliki waktu yang lebih lama di mana harga dirinya dipertahankan. Yang terpenting, ia mulai menyadari bahwa stimulus internal untuk kritik dirinya sering secara samar-samar dirasakan ketika mengingat orang tuanya, dan ia mulai untuk sepenuhnya merasakan kemarahan atas penolakan mereka yang masih membara dalam dirinya. Tampaknya bahwa integrasi restrukturisasi kognitif pada kenyataannya telah mencapai tujuan asimilatif yang membuat klienlebih mudah menyadari dan mengakui konflik emosional alam bawah sadarnya. Mr X memperoleh lebih banyak akses untuk menemukan alasan atas kemarahan dan perasaan atas penolakan yang dialaminya, rasa bersalah dan rasa kegagalan pun menjadi sangat berkurang. Namun, ia juga mengalami peningkatankerinduan terhadap orang tuanya dalamhal cinta dan persetujuan mereka. Perasaan ini membimbingnya untuk menghubungi orang tuanya, tapi dia menolak dengan cara yang dingin dan kejam ketika ia diminta untuk kembali ke pekerjaan lamanya. Pengalaman ini tentu saja sepenuhnya mengecewakan bagi klien, tetapi membantunya untuk memulihkan serangkaian kenangan dari masa kecilnya yang semuanya berkaitan dengan ketidakmampuannya untuk memenuhi tuntutan orang tuanya untuk sukses di bagian akademik, sosial, dan atletik. Kenangan ini bergema dalam dirinya saat ini dan menumpuk dalam pikiran serta emosinya. Kenangan ini dieksplorasi selama beberapa minggu pertama sesi terapi tanpa banyak kemajuan, tujuannya agar dapat menghubungkan dirinya dengan perasaan bahwa dirinya dicintai.
Mengingat bahwa dirinya sudah sangat mengenal teknik terapi kognitif yang kurang berhasil mengatasi masalahnya, Mr. X meminta terapis untuk menggunakan cara lain dalam mengatasi permasalahannya. Terapis kemudian menyarankan untuk menggunakan teknik kursi kosong. Metode ini berasal dari terapi gestalt dan melibatkan pembicaraan dengan imajinasi seseorang yaitu klien yang sedang membayangkan/berimajinasi dan duduk di kursi terapi. Teknik ini telah ditemukan secara empiris menjadi sangat efektif dalam membantu orang dengan ‘urusan yang belum selesai’ dalam kasus ini, yaitu perasaan berkabung atas putusnya hubungan klien dengan orang tuanya sertaharapannya terhadap persetujuan orangtua dan cinta yang tampaknya tidak mungkin untuk didapatkan. Penyesuaian preskriptif dari teknik yang efektif dengan masalah tertentu ini adalah eklektisisme teknis, tetapi dalam kasus ini juga memiliki tujuan yang asimilatif. Terapis berharap bahwa faktor-faktor bawah sadar klien dapat lebih mudah ditelusuri dengan mendapatkan gambaran interaksi antara klien dengan orang tuanya dalam sesi tersebut. Dengan cara ini, Mr. X seperti berbicara dengan tokoh-tokoh imajiner dan mampu memenuhi kebutuhannya akan cinta dan persetujuan dari orang tuanya, dan menemukan bahwa katarsis ini membuatnya sedih tapi terhibur pada saat yang sama, dengan rasa berkurangnya terhadap kebutuhan yang selama ini diharapkannya. Dari gambaran tersebut, klien menyadari bahwa dia selalu menyalahkan diri sendiri atas sikap dan kritik orang tuanya.  Dialog dengan ‘mereka’ membantunya untuk menjadi lebihmenyadari keterbatasan emosional intrinsik orang tuanya, dan untukmemisahkan rasa berharga dan perasaan dicintai dariketidakmampuan mereka untuk mencintai. Sekali lagi, teknik integratif telah sukses pada dua tingkat, dalam hal ini pada tingkat pengalaman metode yang telah dirancang, dan pada tingkat psikodinamik untuk hal yang telah terintegrasi dalam mode asimilatif.
Setelah sekitar 11 bulan terapi, Mr X telah membebaskan diri dari suasana hati dysphoric, tetapi sudah mulai mengalami serangan sering kecemasan yang berbatasan dengan panik. Hal ini memperjelas bahwa ia juga menderita kecemasan sosial yang signifikan yang telah tersamarkan dan dihindari oleh depresinya. Upaya untuk mengeksplorasi gejala kecemasan Mr X, dan untuk mengidentifikasi pemicu situasional atau makna psikodinamik gejala-gejala tersebut, adalah sia-sia. Mr X merasa tak berdaya dan tidak kompeten selama diskusi ini, dan terapis akhirnya mulai mempertimbangkan interaksi ini sebagai pengulangan transferential beberapa hubungan masa lalu di mana kesulitan Mr X itu telah membuat kurangnya perhatian atau kompetensi pada bagian penting lainnya. Terapis kemudian menyarankan perubahan taktik: pengenalan teknik kognitif-perilaku yang ditujukan untuk relaksasi, manajemen kecemasan, dan menenangkan diri.Teknik ini telah digunakan untuk beberapa tujuan simultan. Tujuan pertama adalah untuk mengatasi keadaan klinis dan untuk memungkinkan Mr X untuk menguasai kecemasan dan untuk mendapatkan tingkat baru kenyamanan ketika menghadapi kecemasan. Kedua, intervensi aktif adalah cara untuk memindahkan terapi melewati jalan buntu ini, dan dengan demikian dapat mengatasi resistensi yang terlibat dalam gejala kecemasan klien tanpa mengatasi resistensi tersebut secara langsung. Upaya untuk menggali dan menafsirkan termotivasi secara tidak sadar, sifat resistif kecemasan klienternyata hanya membimbingnya untuk merasa dikritik, tidak efektif, dan ‘bodoh’serta menimbulkan persepsi bahwa terapis bersikap memusuhi dan merendahkan. Akhirnya, terapis berharap bahwa dengan aktif membantu Mr X untuk mengurangi kecemasannya, klien akan memiliki pengalaman(korektif emosional)  langsung dimana klien dihargai dan dirawat yang akan menerangi dan memperbaiki perlakuan negatif dalam hubungan antaraklien dan terapis. Dengan begitu Mr X menjadi lebih mampu mengelola kecemasannya, ia juga menjadi lebih sadar akan pencetus interpersonal/awal mula gejala ini, dan juga lebih mampu mengeksplorasi makna penghindaran. Yang paling penting, klien dan terapis mampu untuk membangun kembali aliansi kerja yang positif dan untuk mengeksplorasi hubungan masa lalu yang bermanfaat, terutama dengan ayah Mr X, di mana rasa sakit dan ketakutan Mr X itu telah dipenuhi oleh ketidakpedulian dan ejekan. Saat ia menyatakan, “Dengan menunjukkan bahwa Anda peduli bagaimana perasaan saya dan bahwa Anda bersedia untuk membantu dengan cara menerima, Anda membuktikan betapa berbedanya Anda dari ayah saya. Hal ini memungkinkan saya untuk melihat dan merasakan betapa sakit hati dan marah padanya ketika ia menertawakan saya saat saya takut, dan bagaimana saya menyangka saya mendapatkannya dari orang lain sekarang.”
Contoh kasus ini menunjukkan cara-cara di mana intervensi dari sistem terapi lain dapat berasimilasi ke dalam terapi psikodinamik, mengubah makna dan dampak dari intervensi itu, dan berakibat pada perubahan psikodinamik dan interpersonal yang tidak dapat diantisipasi (kognitif-perilaku dan pengalaman) sistem. Intervensi aktif menyebabkan pengurangan gejala nyeri dan perolehan keterampilan baru, tetapi juga menyebabkan perubahan radikal dalam pertahanan klien, situasi transferensi, dan pemahamannya tentang psikodinamikanya. Yang paling penting, penyediaan/intervensi aktif membantu mengarahkan pada pembentukan cara-cara baru dan penting untuk memahami dirinya sendiri dan orang-orang penting dalam hidupnya, yang menjadi dasar untuk harapan, rasa harga diri, dan kebebasan baru, kesedihan,  serta cara hidup.
Analisis Contoh Kasus 2
Kasus tersebut menggunakan teknik perspektif integratif dimana penyelesaian masalah klien menggunakan penggabungan beberapa terapi. Terapi pertama yang digunakan adalah terapi kognitif yang bertujuan untuk menemukan dan menelusuri penyebab dari permasalahan yang dihadapinya dan hal-hal yang tersimpan dalam alam bawah sadarnya. Terapi ini berhasil membuat klien menyadari konflik emosional yang dialaminya dan menurunkan rasa penyesalan serta rasa gagal klien. Namun, hal ini meningkatkan kerinduan klien akan kasih sayang orang tuanya. Kemudian untuk mengatasi hal ini, terapis menggunakan terapi kursi kosong yang merupakan teknik gestalt. Terapi ini berhasil membuat klien menggambarkan bagaimana pola interaksinya dengan orang tuanya, dan bagaimana ia tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya sejak dulu. Terapi ini juga berhasil membuat klien memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang orang tua yang selama ini diharapkannya, melalui proses interaksi dengan tokoh-tokoh imajiner dalam bayangannya. Setelah 11 bulan menjalani terapi, klien berhasil melepaskan diri dari perasaan disporik, namun mulai timbul panik dan kecemasan. Terapis kemudian menyarankan klien untuk menjalani terapi perilaku-kognitif. Hal ini bertujuan untuk mengatasi keadaan klinis dan untuk memungkinkan klien untuk menguasai kecemasan. Awalnya teknik ini menimbulkan perasaan-perasaan negatif klien dan hubungan dengan terapis pun menjadi negatif. Namun, terapis membimbing klien dengan cara menghargai dan merawatnya secara langsung untuk memperbaiki hubungan negatif tersebut. Hal ini akhirnya berhasil memunculkan kembali hubungan positif klien dan terapis, serta membuat klien yakin bahwa rasa takut dan kecemasannya tidak selalu membuat orang-orang di sekitarnya menghindar dan mengejeknya, seperti yang pernah dilakukan ayahnya.



BAB III
PENUTUP


A.      Simpulan
1.         Dengan menggunakan pendekatan konseling eklektik, konselor dapat menyesuaikan pendekatannya dengan jenis masalah yang dihadapi konseli, misalnya masalah program studi lebih baik diselesaikan menurut pola pendekatan trait and factor. Dengan demikian, konselor tidak menerapkan pola pendekatan yang sama terhadap semua masalah yang diungkapkan kepadanya.
2.         Koselor dapat mengambil posisi tertentu pada garis kontinum antara ujung memberi pengarahan minimal (metode nondirektif)  dan ujung memberikan pengarahan maksimal (metode direktif) serta pendekatan yang memberikan pengarahan sejauh kebutuhan konseli (metode eklektik)
3.         Konselor perlu menguasai suatu pendekatan yeng secara luas dapat diterapkan terhadap kasus-kasus yang dibicarakan dengannya.
4.         Konselor menyadari bahwa tidak semua kasus konseli mengandung suatu masalah yang memerlukan pembahasan mengenai penyelesaiannya pada saat sekarang.
B.       Saran
1.         Diharapkan calon konselor tidak mempertanyakan mana pendekatan konseling yang paling baik diterapkan selama proses konseling, karena setiap persoalan yang dihadapi konseli berbeda-beda, sehingga membutuhkan cara yang berbeda pula dalam menyelesaikannya. Cara yang baik untuk konseli A belum tentu baik untuk konseli B, ini terjadi karena kondisi yang dialami setiap orang berbeda.
2.         Agar calon konselor sekolah dapat menggunakan pendekatan konseling eklektik, paling tidak calon konselor sekolah tamatan program S1 menguasai kerangka teoritis dan pendekatan yang khas untuk Konseling Trait and Factor, Konseling Behavioristik dan Konseling Rational Emotive. Karena banyak kasus dapat diselesaikan secara tuntas dengan menerapkan salah satu dari pendekatan itu.



DAFTAR PUSTAKA


Adelisa, Natasia. 2014. Perspektif Integratif. Diperoleh 19 September 2015, dari http://nadelisa.blogspot.co.id/2014/05/perspektif-integratif.html.
Afrinata. 2012. Teori Konseling Eklektik. Diperoleh 19 September 2015, dari http://afrinata.blogspot.co.id/2012/05/teori-konseling-eklektik.html.
Faridatha. 2015. Pendekatan Eklektik. Diperoleh 19 September 2015, dari   http://faridatha.blogspot.co.id/2015/08/pendekatan-eklektik.html.
Prayitno dan Amti, Erman. 2010. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Winkel, W.S. 1991. Bimbingan dan Konseling di institusi Pendidikan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar